Mengenal Tentang Fungsi Sosial Pendidikan – Pendidikan sangat diperlukan bagi individu dan masyarakat, karena tanpa pendidikan, semua pengetahuan yang terakumulasi selama berabad-abad akan hilang dan semua standar perilaku akan hilang.

Mengenal Tentang Fungsi Sosial Pendidikan

georg-buechner – Seorang individu harus mempelajari budaya masyarakat atau cara-cara yang diterima dalam melakukan sesuatu. Dia harus disosialisasikan ke dalam budaya yang berlaku dan harus mempelajari aturan perilaku dan harapan tentang perilaku masa depan.

Oleh karena itu, masyarakat secara sadar merancang program instruksionalnya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial daripada membiarkan pembelajaran berubah.

Pendidikan menyediakan program pengajaran sadar yang membantu untuk menanamkan nilai, norma dan keterampilan sosial yang akan memungkinkan individu untuk mengembangkan kepribadiannya dan mempertahankan sistem sosial.

Baca Juga : Menilai Pembelajaran Jarak Jauh Di Perguruan Tinggi Selama Pandemi COVID-19

Arti Pendidikan:

Sebutan pembelajaran mempunyai pengertian yang berbeda- beda. Tiap orang memaknakan tutur dalam perihal pengalaman era lalunya, keinginan serta tujuannya.

Orang tua, guru, pengurus, pemuka agama, politikus, dan seniman mengartikan istilah pendidikan dengan caranya masing-masing. Misalnya, bagi seorang siswa, pendidikan berarti perolehan pengetahuan, menerima gelar atau diploma.

Seorang negarawan dapat mengklaim bahwa itu berarti melatih individu sebagai warga negara yang ideal. Seorang guru dapat memaknai pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan manusia baru dan masyarakat baru.

Makna pendidikan berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Ini telah melewati banyak usia dan tahap evolusi. Pada setiap tahapan memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi sosial yang ada.

Istilah pendidikan berasal dari kata latin ‘educate’ yang berarti ‘mendidik’, ‘mengasuh’ atau ‘menarik keluar’ kekuatan-kekuatan terpendam anak. Menegaskan makna ini, Durkheim mendefinisikan pendidikan sebagai “tindakan yang dilakukan oleh generasi yang lebih tua terhadap mereka yang belum siap untuk kehidupan sosial.

Tujuannya adalah untuk membangkitkan dan mengembangkan dalam diri anak keadaan fisik, intelektual, dan moral yang dituntut darinya baik oleh masyarakatnya secara keseluruhan maupun oleh lingkungan yang untuknya ia dirancang secara khusus”.

Ia memandang pembelajaran sebagai“ pemasyarakatan angkatan belia”. Oleh sebab itu, pembelajaran bisa dengan cara besar dikira selaku metode di mana orang berlatih buat mengutip bagian dalam kehidupan warga di mana mereka bermukim. Pembelajaran merupakan cara sosial dimana orang menekuni keadaan yang dibutuhkan buat membiasakan dirinya dengan kehidupan sosial masyarakatnya.

Pendidikan pada dasarnya adalah pembelajaran yang disengaja yang sesuai dengan peran individu sebagai orang dewasa dalam masyarakat. Seperti ungkapan Counts dan Mead, pendidikan adalah induksi ke dalam budaya peserta didik.

Ini merupakan instruksi yang disengaja di mana kita mendapatkan beberapa besar keahlian sosial serta teknis kita. Dengan begitu tutur Lowie,“ itu setua kehidupan sosial yang terorganisir. Sekolah cumalah wujud pembelajaran yang amat spesial.

Bagi Samuel Koenig, Pembelajaran pula bisa didefinisikan selaku cara dimana peninggalan sosial sesuatu golongan diturunkan dari satu angkatan ke angkatan yang lain dan cara dimana anak jadi disosialisasikan, ialah menekuni ketentuan sikap golongan di mana ia lahir.

Sekali lagi diyakini bahwa istilah pendidikan berasal dari kata Latin ‘educatum’ yang berarti tindakan mengajar atau melatih. Dengan demikian, pendidikan adalah baik perolehan pengetahuan atau seni mengajar dan belajar nilai, norma, dan keterampilan.

Pendidikan suatu sistem, pertama-tama, dapat dilihat sebagai bagian dari sistem sosial total. Ia mencerminkan dan mempengaruhi tatanan sosial dan budaya di mana ia menjadi bagiannya.

Namun, dalam masyarakat modern, pendidikan dipandang sebagai pelatihan formal. Seperti yang ditulis AW Green, Secara historis, itu (pendidikan) berarti pelatihan sadar kaum muda untuk adopsi kemudian peran orang dewasa.

Namun, menurut konvensi modern, pendidikan telah berarti pelatihan formal oleh para spesialis dalam organisasi formal sekolah”. Pendidikan, menurut para sarjana Barat, adalah kegiatan yang disengaja dan terorganisir di mana potensi fisik, intelektual, moral dan spiritual anak dikembangkan, baik secara individu sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Sehingga ia dapat menjalani kehidupan yang paling penuh dan paling kaya di dunia ini. Semua tujuan praktis seperti pengembangan karakter, pencapaian pengetahuan baik untuk digunakan dan dinikmati, perolehan keterampilan, pembuatan warga negara yang layak dan lain-lain yang telah diusulkan dari waktu ke waktu tunduk pada tujuan akhir dalam hidup.

Sistem pendidikan dapat dipandang sebagai subsistem dalam organisasi sosialnya sendiri. Ia memiliki sistem status dan peran, kumpulan keterampilan, nilai, dan tradisi. Setiap sekolah dan setiap kelas di dalam sekolah membentuk kelompok yang saling berinteraksi.

Aspek Pendidikan:

Saat ini, kita bisa membuktikan sebagian pandangan sosiologis pembelajaran. Awal, berlatih merupakan pengalaman inovatif. Kala seseorang laki- laki menjawab rangsangan, ia berperan dengan metode yang inovatif.

Dengan kata lain, pendidikan adalah tindakan kreatif bagi peserta didik. Kedua, pendidikan terdiri dari dua cara belajar yaitu pendidikan informal dan pendidikan formal.

Yang pertama berfungsi terus menerus sepanjang hidup, sebagai mekanisme untuk belajar serta untuk memperkuat pembelajaran sebelumnya. Ketiga, pendidikan formal adalah teknik yang dirancang secara sosial, prosedur yang sangat rumit untuk menciptakan situasi di mana siswa dapat belajar. Individu menjalani pendidikan formal hanya dalam waktu singkat dalam hidupnya.

Keempat, pendidikan adalah baik kehidupan (dalam jaringan hubungan sosial, di dalam kelas dan di luar) dan persiapan untuk hidup. Persiapan hidup meliputi (a) kapasitas untuk mencari nafkah, (b) kapasitas untuk memperkaya hidup seseorang melalui penikmatan warisan budaya dan sumber daya batin seseorang, (c) kapasitas untuk berfungsi secara efisien dan konstruktif sebagai anggota masyarakat, sebagai anggota masyarakat warga Negara.

Kelima, pendidikan melibatkan (a) penguasaan alat-alat belajar, seperti membaca, menulis aritmatika dan (b) penguasaan hubungan kita dengan diri kita sendiri, dengan tetangga kita, dengan alam semesta.

Pendidikan dimaknai dalam dua pengertian, ‘sempit’ dan ‘lebih luas’. Pendidikan dalam arti sempit adalah suatu proses yang terencana, terorganisasi dan terformalkan. Itu disampaikan di tempat tertentu (Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Universitas) dan pada waktu tertentu. Kurikulumnya juga formal.

Dalam maksud kecil pembelajaran terbatas pada ruang kategori. Dalam penafsiran yang lebih besar, pembelajaran tidak berkaitan dengan sekolah ataupun pengajaran.

Setiap individu memperoleh semacam pendidikan, bahkan dia tidak pernah menghabiskan satu hari di sekolah,. karena sifat-sifat yang diperolehnya merupakan produk dari pengalaman dan aktivitas yang merupakan produk dari pengalaman dan aktivitas yang bersifat mendidik.

Pendidikan, dalam arti luas, digunakan untuk tujuan mengajarkan manusia semua karakteristik yang memungkinkan mereka untuk hidup dalam masyarakat.

Pendidikan adalah ‘proses’ yang berkelanjutan. Pendidikan manusia dimulai sejak lahir dan berakhir dengan kematiannya. Dia bersandar sepanjang hidupnya. Tidak ada habisnya.

Pendidikan lebih dari sekedar sekolah. Anak terus merekonstruksi pengalamannya sepanjang hidupnya. Instruksi berakhir di kelas, tetapi pendidikan hanya berakhir dengan kehidupan.

Fungsi Sosial Pendidikan:

Pendidikan sebagai lembaga sosial, memainkan peran penting dalam masyarakat kita. Fungsi pendidikan bersifat multidimensional di dalam sistem sekolah dan di luarnya.

Ini melakukan fungsi mensosialisasikan individu untuk berbagai peran sosial dan pengembangan kepribadian. Ini juga merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol masyarakat. Pendidikan merupakan kebutuhan mulai dari masyarakat sederhana hingga masyarakat industri modern yang kompleks.

1. Sosialisasi:

Fungsi pembelajaran yang sangat berarti merupakan pemasyarakatan. Banyak orang tidak mempunyai wawasan mengenai adat warga mereka. Mereka wajib mempelajarinya serta mereka wajib menekuni metode warga mereka berperan. Oleh sebab itu, kanak- kanak kala mereka berkembang berusia wajib dipublikasikan dengan adat yang hendak mereka hadapi.

Masyarakat, oleh karena itu, menyediakan program pengajaran sadar untuk menanamkan nilai-nilai, norma-norma dan keterampilan sosial yang sesuai dengan individu untuk peran dewasa mereka dalam masyarakat. Masyarakat menciptakan lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi untuk menjalankan fungsi tertentu dalam mencapai tujuan umum ini.

Selain itu, membekali anak-anak dengan alat-alat pengetahuan – bagaimana menulis, mengeja dan menguasai aritmatika, sekolah juga memaparkan mereka pada norma-norma dan nilai-nilai sosial di luar norma-norma dan nilai-nilai yang tersedia untuk dipelajari dalam keluarga dan kelompok lain.

Para siswa mendapatkan wawasan akademis lewat sekolah serta akademi besar yang hendak mereka butuhkan esok serta sebagian hendak efisien ataupun teknis buat menyesuaikannya dengan sebagian tipe profesi. Pada dikala yang serupa sekolah serta akademi besar menancapkan angka serta norma sosial di antara mereka.

Meskipun orang belajar banyak dari orang tua mereka atau di klub dan di antara kelompok teman, mereka belajar lebih banyak tentang budaya masyarakat mereka melalui sistem pendidikan.

Karena di lembaga-lembaga pendidikan itulah kaum muda dihadapkan pada norma-norma dan nilai-nilai sosial di luar norma-norma dan nilai-nilai yang tersedia untuk dipelajari dalam keluarga dan kelompok-kelompok sosial lainnya. Buku-buku sejarah cenderung ditulis dari sudut pandang etnosentris dan menanamkan nasionalisme sikap.

Lewat pembelajaran, anak sanggup meningkatkan penalaran dalam ikatan sosial, menyuburkan nilai- nilai sosial serta dengan begitu jadi berdaya guna dengan cara sosial semacam yang dibilang Deway.

Ketika dia berbicara tentang efisiensi sosial, dia mengacu pada efisiensi ekonomi dan budaya, dan dia menyebutnya ‘sosialisasi individu’. Dengan demikian, pendidikan mungkin hanya merupakan bagian dari proses sosialisasi, tetapi merupakan bagian yang sangat penting.

2. Pengembangan Kepribadian:

Pendidikan memegang peranan penting dalam perkembangan kepribadian. Tujuan pendidikan, sebagaimana dikatakan Durkheim “adalah untuk membangunkan dan mengembangkan dalam diri anak keadaan fisik, intelektual, dan moral yang dituntut darinya baik oleh masyarakatnya secara keseluruhan maupun oleh lingkungan di mana ia dirancang secara khusus”. Pendidikan membantu pengembangan kualitas individu, seperti fisik, mental dan emosional serta temperamen dan karakternya.

Diri, inti kepribadian, berkembang dari interaksi anak dengan orang lain. Selanjutnya, kebiasaan, sifat, sikap dan cita-cita seorang individu terpola oleh proses pendidikan.

Kepribadian seorang pembelajar juga berkembang secara tidak langsung ketika ia didorong untuk membentuk sikap dan nilai-nilainya sendiri dengan mempelajari orang-orang terkemuka dalam sejarah dan sastra. Selain itu, seorang pembelajar juga dipengaruhi oleh cara pandang dan sikap sesama siswa dan guru.

3. Kontrol Sosial:

Pembelajaran memainkan kedudukan berarti dalam menata sikap orang lewat transmisi metode hidup serta mengkomunikasikan gagasan serta nilai- nilai pada angkatan terkini.

Salah satu cara pendidikan berkontribusi pada peraturan perilaku sosial, kata Bottomore, “adalah dalam sosialisasi awal anak”.

Buat melanjutkan peninggalan sosialnya serta bertahan selaku aturan sosial, seluruh warga meningkatkan sistem pembelajaran buat melatih angkatan mudanya.

Kaum muda harus secara sadar dilatih untuk peran orang dewasa mereka untuk mempertahankan masyarakat. Melalui
proses pendidikan masyarakat mengatur perilaku anggotanya dan menegakkan kesesuaian dengan norma-normanya.

“Pendidikan dalam arti luas”, seperti kata Bottomore, “Dari bayi hingga dewasa, dengan demikian merupakan sarana penting untuk kontrol sosial”. Pendidikan formal dalam masyarakat modern mengkomunikasikan ide-ide dan nilai-nilai yang berperan dalam mengatur perilaku. Generasi baru diinstruksikan untuk mematuhi norma-norma sosial, yang pelanggarannya dapat mengundang hukuman.

4. Integrasi Sosial:

Pendidikan, dengan menanamkan nilai-nilai, juga mengintegrasikan orang ke dalam masyarakat yang lebih luas. Kurikulum sekolah, kegiatan ‘ekstra kurikuler’ dan hubungan informal antara siswa dan guru mengkomunikasikan nilai-nilai tertentu dan keterampilan sosial seperti kerjasama atau semangat tim, kepatuhan, fair play.

5. Penentuan Sfatus:

Penentuan status individu merupakan fungsi penting dari pendidikan. Jumlah pendidikan merupakan indikator yang baik dari status sosial ekonomi, dari kelas pekerja bawah hingga kelas atas, pendidikan mengarah pada peluang ekonomi.

Melalui pendidikan, kaum muda mendapatkan pekerjaan dengan status yang lebih tinggi daripada orang tua mereka. Dengan pendapatan yang lebih tinggi mereka datang untuk bergaul dengan orang-orang dari status yang lebih tinggi. Dengan demikian, pendidikan menyediakan saluran untuk status sosial ekonomi yang lebih baik.

6. Menyediakan Rute Mobilitas Sosial:

Kualifikasi pendidikan semakin membentuk dasar bagi alokasi individu pada status sosial dan mobilitas sosial. Ada perpindahan yang stabil dari satu status ke status lainnya karena pencapaian pendidikan.

Masyarakat industri seperti Amerika Serikat atau Inggris Raya semakin menekankan pada pencapaian keterampilan yang diperoleh di pendidikan dasar, menengah, dan tinggi dan kredensial pendidikan bahwa seseorang telah memperoleh keterampilan untuk suatu pekerjaan.

Sistem pendidikan diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi mobilitas sosial dan ekonomi dengan menyeleksi dan melatih kaum muda yang paling mampu dan rajin untuk menduduki posisi yang lebih tinggi di masyarakat.

Sistem pendidikan menempatkan mereka yang memiliki kemampuan dan pelatihan yang lebih tinggi di posisi yang lebih tinggi dan mereka yang memiliki kemampuan dan pelatihan yang lebih rendah di posisi yang lebih rendah. Dengan demikian, pendidikan cenderung menghasilkan mobilitas sosial vertikal dengan meningkatkan daya pendapatan mereka dan dengan mempersiapkan mereka untuk pekerjaan status yang lebih tinggi daripada orang tua mereka.

Sistem pendidikan baik dalam masyarakat industri maupun dalam masyarakat berkembang seperti India cenderung menciptakan dan mempertahankan pembagian yang luas antara elit dan massa, antara pendidikan untuk intelektual dan untuk pekerjaan manual. Diferensiasi semacam itu dalam sistem pendidikan terkait erat dengan sistem stratifikasi dan mobilitas sosial.

7. Pembangunan Sosial:

Keterampilan dan nilai-nilai yang dipelajari dalam pendidikan secara langsung berkaitan dengan cara ekonomi dan struktur pekerjaan beroperasi. Pendidikan melatih individu dalam keterampilan yang dibutuhkan oleh ekonomi.

Dalam ekonomi terencana modern, keluaran orang-orang yang terampil harus secara sadar disesuaikan dengan prioritas ekonomi dan sosial masyarakat. Itu menjelaskan peran vital pendidikan dalam pembangunan sosial.

Keaksaraan, misalnya, merangsang pembangunan ekonomi dan sosial dan itulah sebabnya semua negara berkembang telah melakukan program keaksaraan skala besar.

Literasi meningkatkan kesadaran politik di kalangan masyarakat miskin yang kini mengorganisir diri ke dalam berbagai bentuk organisasi.